Namun, topik ini tetap menarik dan aktual. Mengapa? Karena setelah begitu banyak ditulis dan dibicarakan masih saja belum tampak peningkatan minat baca yang signifikan. Indikator rendahnya minat baca adalah dihitung dari jumlah buku yang diterbitkan yang memang masih jauh di bawah penerbitan buku di Malaysia, Singapura, apalagi India, atau negeri-negeri maju lainnya. Negara disebut maju karena rakyatnya suka membaca. Ini dibuktikan dari jumlah buku yang diterbitkan dan jumlah perpustakaan yang ada di negeri itu.
Mengapa orang-orang (baik anak-anak maupun orang dewasa) Indonesia kurang berminat membaca? Padahal jika dicermati sejenak penerbitan majalah dan koran, dalam sepuluh tahun terakhir jumlah nama/judulnya sangat meningkat. Mestinya ini berarti makin banyak orang berminat membaca. Tetapi sayang, minat ini hanya terbatas pada membaca koran dan majalah. Sedangkan minat baca yang dimaksud tentunya juga membaca buku yang memuat pengetahuan yang menyebabkan masyarakat suatu negeri memiliki penduduk yang cerdas mampu bersaing setaraf dengan masyarakat negeri lain di bidang apa saja di dunia internasional.
Mengapa minat baca di Indonesia dikatakan rendah? Ada banyak teorinya. Pertama, sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak/siswa/mahasiswa harus membaca buku (lebih banyak lebih baik), mencari informasi/pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, mengapresiasi karya-karya ilmiah, filsafat, sastra dsb. Kedua, banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku, surfing di internet walaupun yang terakhir ini masih dapat dimasukkan sebagai sarana membaca. Hanya saja apa yang dapat dilihat di internet bukan hanya tulisan tetapi hal-hal visual lainnya yang kadangkala kurang tepat bagi konsumsi anak-anak. Ketiga, banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, supermarket. Keempat, budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita. Kita terbiasa mendengar dan belajar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal dikemukakan orangtua, tokoh masyarakat, penguasa pada zaman dulu. Anak-anak didongengi secara lisan, diajar membuat banten dengan melihat cara memotong janur, menata buah-buahan dan lain-lain sajian. Tidak ada pembelajaran (sosialisasi) secara tertulis. Jadi tidak terbiasa mencapai pengetahuan melalui bacaan. Kelima, para ibu, saudari-saudari kita senantiasa disibukkan berbagai kegiatan upacara-upakara keagamaan serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga, belum lagi harus memberi makan hewan peliharaan seperti babi, bebek, ayam (lebih-lebih kaum wanita di desa) sehingga tiap hari waktu luang sangat minim bahkan hampir tidak ada untuk membantu anak membaca buku. Keenam, sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka.
Untuk meningkatkan minat baca, harus dimulai dari usia sangat dini karena minat ini tumbuh sebagai hasil kebiasaan membaca. Peran orangtua, terutama ibu, sangat penting dalam meningkatkan minat baca anak. Kalau biasanya sebelum tidur anak-anak didongengi secara verbal, mulailah sekarang mendongeng dengan membacakan sebuah buku. Jadi si anak melihat sang ibu membaca sambil mendengarkan apa yang dibaca. Kemudian mulai anak diminta membaca sendiri jika ia sudah bisa membaca. Sebagai pembuktian si anak diminta pula menceritakan kembali apa yang telah dibacanya. Ingat, anak perlu dibatasi waktu bermainnya dengan alternatif membaca buku secara santai.
Juga metode pengajaran di sekolah, dari TK sampai perguruan tinggi, harus diarahkan pada banyak membaca buku untuk mencari lebih banyak informasi/pengetahuan tentang apa yang diajarkan. Tiap sekolah apa pun jenis, jurusan atau tingkatnya harus mempunyai perpustakaan, karena perpustakaan memberi kesempatan sama kepada semua orang/murid/mahasiswa untuk menggunakan buku-buku koleksinya. Dengan cara ini, upaya meningkatkan minat baca akan sangat terbantu. Pada gilirannya, secara ekonomis sangat meringankan orangtua murid/siswa/mahasiswa yang tidak harus perlu membeli buku sendiri.
Selain itu di tiap kota perlu ada perpustakaan umum yang terbuka untuk seluruh penduduk kota itu. Orang-orang yang sejak di TK sudah dibiasakan membaca, setelah dewasa akan terus membutuhkan bacaan. Orang-orang yang ingin menambah informasi/pengetahuan akan tertolong oleh perpustakaan. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya karena buku-buku yang diperlukan telah tersedia di perpustakaan umum.
Membayangkan buku-buku dan perpustakaan umum dalam pikiran kita sungguh menakjubkan! Perpustakaan di Indonesia jika telah tersedia baik di tiap sekolah/perguruan tinggi dan kota tentu banyak buku yang diperlukan untuk mengisi perpustakaan tersebut. Dengan demikian betapa banyak penulis buku, penerbit, dan toko buku yang memproduksi dan mengedarkan buku serta mengisi perpustakaan di seluruh negeri. Dengan demikian lapangan kerja terbuka luas dan berpotensi besar. Yang terutama, adalah tersedianya buku bagi tiap dan semua orang, menjadikan masyarakat makin cerdas dan kreatif. Mereka akan membuka usaha, berani mandiri, bekerja secara profesional, rame ing gawe, mampu bersaing, berdiri tegak di antara bangsa-bangsa. Untuk semua ini suatu program meningkatkan minat baca, mendirikan perpustakaan umum dengan visi dan misi mencerdaskan bangsa, menjadikan negara Indonesia sejajar di antara bangsa-bangsa di dunia!
Kamis, 26 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar